Monday, May 13, 2019

Legenda

















ASAL USUL WATU TEDON
Secara Etimologis Watu Tedon terdiri dari dua kata yaitu watu, dan tedon (dalam bahasa daerah Riung Barat) watu yang artinya batu dan Tedon artinya tersusun bagian atasnya. Atau dalam arti yang luas Watu Tedon adalah sebuah batu yang ditindih diatas batu lainnya.
 Desa wolomeze 1 merupakan sebuah desa yang ada dikecamatan Riung Barat, di desa ini terdapat sebuah batu besar yang sangat unik dan masyarakat setempat menyebutnya Watu Tedon. Lokasi Watu Tedon ini berada di perkebunan warga yang jaraknya relative dekat dengan kampung Nampe desa Wolomeze 1, dengan jaraknya sekitar 2 km dari lokasi dimana Watu     Tedon itu berada. Menurut cerita yang beredar dimasyarakat Watu Tedon ini bukanlah sebuah batu  biasa tapi awal mulanya adalah manusia, yang menjelma menjadi batu. Ada beberapa sumber lisan berpendapat bahwa batu ini muncul sebelum bangsa Indonesia merdeka dan di perkirakan kejadian ini  sekitar tahun 1920 –an, hal ini memiliki bukti yang cukup kuat karena di danau Ngandong masih terdapat sisa tiang rumah penduduk  sampai saat ini.
Kisah Watu Tedon  berawal dari sebuah fenomena supranatural disalah satu daerah di Manggarai Timur dan nama daerah tersebut yaitu kampung Ngandong (Sekarang danau Ngandong).Secara administrative danau Ngandong terletak di desa Golo Lebo, kecamatan Elar, kabupaten Manggarai Timur. Peristiwa di Ngandong bermula dari dua perempuan yang kebetulan pada saat itu tinggal dikampung, sedangkan warga lainnya banyak melakukan aktivitas yaitu dikebun mereka masing masing,dikarenakan masyarakat Ngandong pada saat itu mayoritas penduduknya adalah sebagai petani. Pada saat itu kampung Ngandong lagi diguyur hujan di siang harinya, sehingga kedua perempuan itu tetap tinggal didalam rumahnya masing- masing.Tetapi diantara kedua perempuan tersebut salah satunya ingin menyalakan api tetapi tidak memiliki korek api maka ia ingin meminta api ditetangga sebelah rumahnya. Ia pun segera memanggil tetangganya  tersebut dan meminta api dengan alasan dirumahnya tidak ada api. Tetapi kondisi pada saat itu hujan yang sangat deras sehingga keduanya tidak berani keluar untuk mengantarkan api atau mengambilkan api tersebut. Sehingga munculah ide dari keduanya untuk memperdayai  seekor anjing  yaitu dengan mengikat sebatang kayu api (dalam bahasa daerahnya disebut lunton api) diekor anjing  tersebut serta mengusirnya anjing tersebut ke arah rumah tentangga yang membutuhkan api. Namun  anjing tersebut meronta  kepanasan karena sebagian bulunya terbakar.Melihat hal tersebut Kedua orang ini pun tertawa terbahak .Tiba-tiba pada saat itu muncullah seorang lelaki yang mereka berdua pun tidak mengetahui asal usulnya, dan orang itu adalah orang asing bagi mereka. Ciri-ciri orang tersebut memiliki postur tubuh yang tinggi dan berjenggot serta ditangannya ada sebuah tongkat. Orang ini pun menatap kedua perempuan tersebut dan bertannya; Apa yang kalian lakukan dan apa yang membuat kalian tertawa? Pertanyaan tersebut dilontarkan sampai tiga kali kepada kedua perumpuan itu, tetapi keduanya membohongi orang tersebut dan mereka mengatakan bahwa mereka tidak melakukan apapun. Ketika mendengarkan jawaban tersebut, pada saat  itu juga  lelaki yang berjenggot tadi menancapkan  tongkat ke tanah. Seketika  itu munculah air dari tanah bekas tancapan tongkat tersebut,dan orang itu berpesan kepada kedua perempuan itu segera tinggalkan tempat ini dan selama kalian melakukan perjalanan jangan pernah menoleh kebelakang sampai kalian tiba ditempat tujuan. Setelah selesai berbicara laki-laki yang tak dikenali itupun langsung menghilang. Maka kedua perempuan itu pergi dan memberitahukan serta menceritakan semua kejadian kepada semua masyarakat yang masih dikebun dan mereka perintahkan untuk segera meninggalkan daerah tersebut karena kampung halaman mereka sudah dipenuhi dengar air dan sudah dalam keadaan tenggelam. Masyarakat Ngandong pada saat itu pun mulai pergi mencari daerah yang baru dan semuanya mulai berpencar untuk mencari tempat yang aman untuk bertahan hidup. Ada masyarakat lain mengungsi  ke arah timur yaitu diperkirakan mereka  menuju ke kampung Retas (suku Retas) namun belum sampai didaerah yang ditujui mereka memutuskan untuk berhenti sekedar beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Namun mereka berbalik dan melihat kembali ke arah kampung halaman mereka,dan ketika mereka berbalik lagi dengan niat untuk melanjutkan perjalanan tiba-tiba mereka berubah menjadi batu.
***
Manusia dalam teks-teks keagamaan dan kepercayaan kuno disebut sebagai makhluk yang memiliki banyak keistimewaan bahkan di lukiskan hampir menyerupai Tuhan sehingga pada manusia diletakkan kata sempurna diantara ciptaan lainnya seperti alam, tumbuhan dan binatang. Sifat yang dimiliki oleh keempat makluk Tuhan yakni; alam memiliki sifat wujud, tumbuhan memilki sifat wujud dan hidup, binatang memilki sifat wujud, hidup dan dibekali nafsu dan terakhir adalah manusia memiliki sifat wujud, hidup, dibekali nafsu, serta akal budi. Dengan akal budi inilah manusia mampu mempelakukan sesuatu demi kepentingan hidupnya.
Manusia memiliki hubungan dengan lingkungan, dimana suatu lingkungan sangat mempengaruhi sikap dan prilaku manusia,demikian juga kehidupan manusia akan mempengaruhi juga lingkungan tempat hidupnya. Tata kelakuan (mores) manusia dalam suatu lingkungan adalah kebiasaan yang dianggap sebagai norma pengatur. Sifat norma ini disatu sisi sebagai pemaksa suatu perbuatan dan disisi lain sebagai suatu larangan. Dengan demikian tata kelakuan menjadi dapat menjadi acuan agar setiap manusia menyesuaikan diri dengan kelakuan yang ada serta meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan tata kelakuan.
 Religiusitas masyarakat mempercayai bahwa orang yang menghancurkan kampung Ngandong adalah Mbo Muri (Tuhan). Dengan kejadian di Ngandong ini, masyarakat beranggapan bahwa peristiwa tersebut merupakan suatu kejadian yang paling ditakuti sehingga sampai sekarang sangat takut dan  pemali jika menertawakan binatang atau hal lainnya secara berlebihan. Tradisi ini masih melekat dan diwarisi secara turun temurun walaupun hanya melalui cerita yang disampaikan secara verbal. Mereka meyakini jika mereka melakukan hal itu akan datang malapetaka bagi mereka. Dari kisah Ngandong yang diceritakan turun temurun  oleh para leluhur sampai sekarang ini memberikan suatu peneguhan kepada manusia agar saling menghormati segala ciptaan Tuhan.Segala larangan yang disampaikan oleh para leluhur masih terdengar sampai sekarang dan selalu kaitkan dengan peristiwa yang terjadi di Ngandong mereka sering mengungkapkan dan salah satu kalimatnya seperti ini “Za’a tawa ka’o, manuk dok sala rno dwos tana watu kudi lau Ngandong”. Ungkapan  ini yang artinya suatu larangan agar jangan tertawa anjing ataupun ayam nanti tanah yang kita tempati bisa tenggelam seperti di Ngandong.
 Dalam hal ini bukan hanya ayam ataupun anjing tetapi hal-hal lain yang dilakukan manusia secara sengaja dan tidak manusiawi seperti membuat patung dari tanah, melihat anjing sementara kawin dan dijadikan bahan candaan atau lelucon yang sangat berlebihan, maka kondisi alam akan tidak bersahabat dengan kita dan akan terjadi seperti angin puting beliung, disambar petir, dan akan terjadi hal lain yang tidak kita duga. Hal  seperti ini sudah sering terjadi dan menelan korban jiwa.
Kisah Ngandong kalau kita kaitkan dengan kisah  Sodom dan Gemora dalam kitab (Kejadian bab:19) memang kisahnya berbeda,waktu, dan tempat juga jelas berbeda tetapi dalam  kisah Sodom,Gemora dan kisah Ngandong terdapat kalimat berupa pesan yaitu (jangan menoleh kebelakang).
*Pesan yang pertama disampaikan kepada keluarga Lot ” Larilah, selamatkan nyawamu; jangalah menoleh ke belakang,dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan,supaya engkau jangan mati lenyap’’ Tetapi pada saat itu Lot meminta kepada orang yang menuntunnya  agar ia lari ke sebuah kota kecil yang cukup dekat dengan Sodom,dan malaikat yang menuntun Lot pada saat itu menyetujui permintaannya sehingga kota yang ia hampiri tidak di hancurkan. Ketika Tuhan menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gemora, namun istri Lot yang pada saat itu mengikutinya menoleh kebelakang menjadi tiang garam.
*Pesan yang kedua disampaikan kepada dua orang perumpuan di Ngandong yaitu” jangalah menoleh kebelakang, sampai kalian tiba ditempat tujuan” Namun masyarakat Ngandong yang mengungsi ke daerah timur melanggar pesan tersebut sehingga mereka menjadi batu.Dan batu itu masih berdiri kokoh di kampung Nampe desa Wolomeze 1 dan sampai saat ini  masyarakat setempat menyebutnya Watu Tedon.
Keterkaitan peristiwa di Sodom dan Ngandong  merupakan suatu bentuk kekecewaan Tuhan atas tingkah laku manusia baik terhadap sesama manusia dan makluk ciptaan Tuhan lainya.Secara historis kisah tentang Sodom dan Gemora memiliki bukti tertulis dalam Alkitab.Sedangkan kisah tentang tenggelamnya kampung Ngandong tidak memiliki bukti yang tertulis hanya diwarisi melalui cerita yang disampaikan secara lisan secara turun temurun.Namun hal yang meyakinkan kita dari dua peristiwa diatas yaitu melanggar pesan yang sebelumnya sudah disampaikan seperti istri Lot menjadi tiang garam, dan masyarakat Ngandong menjadi batu karena nenoleh kearah kampung halamanya.
 Asal usul Watu Tedon dan kisah tentang Ngandong tersebut memang sulit dibuktikan secara ilmiah mengingat tidak ada catatan sejarah mengenai Watu Tedon dan Ngandong  tetapi  kejadian masa lampau hanya diwariskan melalui cerita secara turun-temurun yang disampaikan secara verbal. Perlu kita sadari bahwa pada masa lampau tidak ada akses ke pendidikan,tidak mengenal budaya literasi, baik dalam konteks membaca ataupun menulis seperti sekarang ini.
Sekian
NB: Mohon kritikian dan saran dari saudara sekalian guna menyempurnakan tulisan     ini.Terimakasih
Malang, 13 maret 2019
                                                                                                                   Penulis:

                                                                                                                   Dolfus Ndona

Perjalanan

PERJALANAN KU MENUJU BUMI AREMA
Meninggalkan kampung halaman merupakan hal yang sangat berat bagi siapa saja yang ingin bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama. Kita harus meninggalkan orang yang sangat berarti dalam hidup kita, seperti berpisah dengan orang tua, sanak saudara, teman, ataupun orang yang paling special dalam hidup kita. Namun karena niat dan tujuan kita sudah bulat, walaupun berat hati terpaksa harus berpisah dengan orang-orang yang kita sayangi.
Biasanya, ketika keesokan harinya mau berangkat, pada malamnya  akan diadakan acara yang dihadiri oleh orang-orang terdekat, kehadiran mereka merupakan salah satu faktor pendorong dan juga support serta motivasi dengan berbagai pesan moral yang akan dijadikan suatu pegangan bagi kita. Selain itu ada sebuah ritual pelepasan agar perjalanan kita selamat sampai tujuan. Ritual ini dinamakan Pintu Pazir/pintu manuk. Ritual Pintu Pazir/pintu manuk merupakan ritual untuk menghadirkan Tuhan dan para leluhur dengan tujuan meminta perlindungan agar segala rencana baik kita dapat berjalan dengan baik pula. Ritual seperti inilah sudah menjadi suatu kebiasaan didaerah ku dan diberlakukan bagi siapa saja yang ingin berpergian dalam jangka waktu yang sangat lama, serta memliki tujuan tertentu yang sudah direncanakan sebelumnya. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah merasakan hal ini dan rasanya begitu berat untuk melangkahkan kaki dan meninggalkan kampung halaman. Namun demi mewujudkan masa depan dan impian terpaksa kita harus rela meninggalkan semuanya walau dengan berat hati.
Tulisan ini adalah sebuah kisah pribadi mengenai pengalaman yang pernah dirasakan oleh penulis. Yaitu pengalaman perjalanan penulis mulai dari kampung halamannya hingga sampai di tempat dimana ia merantau. Pada saat itu penulis merantau ke daerah Jawa untuk belajar disalah satu perguruan tinggi di kota malang.
Tepatnya pada tanggal 14 agustus ditahun 2014. Ini merupakan moment bersejarah bagi ku karena ditanggal itulah pertama kali aku memberanikan diri untuk pergi meninggalkan kampung halaman. Sekitar jam 04;30 WITA aku terbangun ketika alarn di hp ku berbunyi. Aku pun bangun dan segera mengecek barang- barang yang akan ku bawakan. Setelah semuanya beres aku menuju dapur, ternyata mama sudah bangun dan sementara menyiapkan makanan dan minuman. Tak lupa juga mama menyiapkan secangkir kopi hitam salah satu minuman favourite ku yang aromanya sangat terasa hingga rasa ngantuk yang ku rasakan pun hilang. Setelah semuanya sudah disiapkan, mama memanggil ku untuk makan bersama. Sebentar lagi aku akan berangkat dan ini merupakan makan terakhir bersama keluarga. Setelah nasi di piring sudah ku habisin, tinggal minuman terakhir yaitu secangkir kopi hitam ku teguk secara berlahan sambil mendengarkan setiap pembicaraan yang silih berganti baik dari bapa maupun mama. Setiap pembicaraan mereka selalu mengarah kepada ku agar  tetap menjadi pribadi yang baik dan bisa beradaptasi di daerah yang ku tujui.
Setelah mendengar berbagai pesan dari bapa dan mama. Aku pun tertegun sejenak dan mengangkat kepala. Dengan wajah lesu, mata yang berkaca-kaca dan suara yang sedikit parau ku minta  pamitan “ bapa, mama, saya mau jalan’’ disaat itu isak tangis pun terjadi. Mama memeluk ku sambil menangis, disela tangisannya ia mengatakan “ ia nak jalan baik-baik”.  Disaat saya naik motor diboncengi oleh seorang teman tiba-tiba mama memelukku sekali lagi sambil menangis. Inilah perasaan orang tua, inilah perasaan seorang mama, yang selalu kwatir dengan anaknya. Namun, aku berusaha tegar walaupun dengan berat hati ku tetap berpamitan dengan mereka.
Dalam perjalanan dari kampung menuju Bajawa tak ada kendala apapun, semuanya berjalan lancar dan tiba di bajawa sekitar pukul 10:00 pagi. Aku  singgah disebuah rumah makan dekat terminal dan memesan makanan serta minuman. Sementara mencicipi makanan yang ada di meja, pandanganku mengarah ke terminal sambil memperhatikan setiap kendaraan yang keluar masuk terminal. Ada banyak kendaraan yang berlalu-lalang dan  beberapa konjak bemo sedang sibuk mengangkat barang belanjaan penumpangnya, ada juga yang berteriak untuk memberikan kode kepada penumpang. Sedangkan banyak penumpang lainnya duduk diarea terminal dan mereka sangat sibuk dengan aktivitasnya masing- masing.
Hari ini alam sangat bersahabat. Langit begitu cerah panasnya matahari menusuk ubun-ubun tak ada sedikit pun gumpalan awan menghalanginya. Sedangkan suasana terminal sangat bising. Bunyian musik dari beberapa kendaraan roda empat yang sedang parker, membuat para penghuni terminal menghentakan kaki mengikuti setiap alaunan musik. Sungguh sangat asik, aku pun menikmatinya juga, sambil menyantap makanan padang. Setelah selesai makan aku keluar dan berjalan menuju terminal dan duduk diantara para penumpang lainya sambil menikmati sebatang rokok dan menghembuskan asapnya secara berlahan. Yah!!  ini benar-benar nikmat kalau  merokok setelah  makan, dan memiliki rasa tersendiri yang sulit untuk dilukiskan bagi para penikmat rokok. Banyak orang menulis caption tentang rokok  dan saya teringat sebuah caption yang isinya seperti ini “ lelaki perokok itu imannya kuat, sudah jelas di bungkus rokok ada tertulis merokok  dapat membunuh mu, tetapi seorang perokok tak mempedulikannya karena dia tau kematian itu ada ditangan sang pencipta.’’ Hehe.. ini hanya sebuah caption. Mungkin caption seperti ini dibuat oleh orang-orang tertentu, dan belum tentu orang tersebut itu perokok. Mungkin dia adalah orang yang pandai merangkai kata- kata dan tidak semua orang menyetujui hal akan tersebut.
Sebuah bis kayu melintas dan berhenti di ujung terminal. Pandangan ku tertuju pada gambar dan tulisan yang terpampang dibelakang bis kayu tersebut “ Pulang malu, Tak pulang rindu’’ . Tulisan inilah yang membuat ku tersenyum dan aku berasumsi bahwa tulisan tersebut sifatnya sangat kontradiktif. Aku tak mau mengalami hal tersebut yang membuatku tertekan, aku ingin menjadi orang bebas tapi bermoral. Maka saya berjanji pantang pulang sebelum berhasil, dan ketika ku pulang tanpa rasa ragu dan tanpa menanggung malu, tapi pulang mengobati rasa rindu yang lama tak bertemu. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara klakson sebuah mobil avansa berplat kuning berhenti tepat di depan ku. Ketika kumelihat ada sebuah tulisan depan kaca mobil tersebut yaitu bajawa ende. Aku pun  bangun lalu mendekati sopirnya dan menanyakan kepastian serta melakukan negosiasi harga dengan sang supir. Setelah selesai bicara dan sedikit berbasa basi ku menganggkat barang bawaan ku untuk melanjutkan lagi perjalanan menuju kota ende.
Sekitar pukul 16;00 WITA kami tiba di ende. Aku meminta sama sopir untuk mengantarkan ku ke alamat yang sudah dikonfirmasi oleh saudara ku sebelumnya yaitu didepan salah satu kampus yang ada di ende. Tak begitu lama saudara ku yang kuliah disana langsung menjemput ku untuk menginap beberapa hari di kostannya. Setalah hampir dua hari menginap saya mendapat kabar bahwa keesokan harinya ada jadwal kapal dengan tujuan ende - Surabaya. Pada hari itu juga aku bersama saudara pergi ke tempat penjualan tiket. Sayangnya sampai ditempat penjualan tiket tersebut antriannya sangat panjang dan banyak orang berdesak-desakan untuk membeli tiket juga, Melihat hal itu kami memutuskan untuk pulang dan pada keesokan harinya baru berhasil membeli tiket.Walaupun masih berdesak-desakan seperti hari sebelumnya.
Jadwal keberangkatan kapal sudah terlampir jelas dalam tiket, tinggal menunggu waktu untuk melanjutkan perjalanan. Selama seharian aku merasa deg- degan karena dalam beberapa jam lagi aku akan naik kapal. Entah apa yang ku pikirkan aku tak tahu, pokoknya pikiran ku kacau dan menimbulkan berbagai pertanyaan Apakah aku harus melanjutkan perjalanan? Ataukah aku harus pulang lagi ke kampung halaman? Ini menjadi tantangan terberat bagi ku.Tak ada yang bisa menentukan pilihan, selain diriku sendiri yang mengatasi hal ini. Mau pulang lagi pasti malu, dengan terpaksa harus berjalan terus sesuai komitmen awal. Sebelumnya aku tak pernah jalan jauh sampai menyebarangi lautan, dan tentunya ku tak punya pengalaman sama sekali. Bahkan ini merupakan pertama kali ku naik kapal dan hanya bermodal nekad dan tekad yang kuat untuk sampai ditempat tujuan. Banyak pikiran aneh melintas dibenakku itulah membuat aku takut bagaimana yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak punya teman, aku tak punya siapa-siapa dan mulai hari ini aku menjadi orang asing didaerah perantauan. Apapun resikonya  ku harus terima karena ini adalah pilihan ku sendiri untuk berpetualang di tanah rantau demi masa depan yang masih abu-abu. 
Saat yang ditunggu- tunggu  pun tiba, aku diantar menuju pelabuhan oleh saudara dan beberapa teman cewek yang kebetulan pada saat itu ingin mengantarkan ku. Setelah sampai dipelabuhan aku kaget karena banyak penumpang dengan berbagai  barang bawaannya berserakan disekitar mereka. Semua mereka menunggu kapal yang sama yang sebentar lagi bersandar di pelabuhan. Tak lama kemudian kapal tersebut membuang jangkar dan menurunkan penumpang di pelabuhan tersebut. Semua penumpang masih tetap bersabar untuk menunggu giliran naik kapal. Aku masih tetap berdiri walaupun barhampitan diantara penumpang lainya dan menahan tas yang selalu melekat dibelakang punggung. Aku mulai merasa kepanasan sehingga tubuhku di banjiri keringat pada saat itu. Walaupun berdesak-desakan akhirnya sampailah juga ditangga naik menuju kapal. Saat itu saudara dan teman teman cewek memeluk ku untuk perpisahan dan dibanjiri dengan air mata.Ada yang ucapin’’ ade jalan hati-hati yah!! ada juga yang bilang” kak semoga tiba di tempat tujuan dengan selamat’’.
Setelah berpamitan aku langsung jalan menuju tangga kapal sambil melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. Setibanya didalam kapal aku kebingungan untuk mencari tempat istirahat karena penumpang terlalu banyak. Aku merasa sudah terlalu kelelahan akhirnya meletakan tas sembari menyandarkan badan ke dinding kapal. Tiba tiba terdengar orang berteriak;  tikar!!! tikar!!  dan orang itu mendekati ku serta menawarkan harga tikarnya, cuma 10 ribu dek, kata orang itu. Aku pun menyetujuinya serta memberikan uang dan orang itu menyodorkan sebuah gulungan yang berwarna putih. Aku sedikit kaget karena yang ku terima bukan tikar seperti yang ku kenal. Tetapi ini sebuah wadah dari semen dan lengkap dengan tulisannya yaitu Semen Tonasa. Aku pun tersenyum dan berguman wah dikampung kan barang seperti ini sangat banyak dan orang menyebutnya bukan tikar tapi sak semen. Tapi aneh dikapal ini mereka menjualnya dan bilang itu adalah tikar. Jangan jangan saya dibohongi, pikir ku. Tapi keraguan ku terjawab setelah melihat beberapa orang berjalan kearah dimana aku duduk. Selain mereka  membawakan barang barangnya dan ternyata ada sak semen juga. Aku kaget ternyata banyak juga yang membeli bukan hanya aku saja. Aku mulai berpikir wahh mereka  mencari  uang kok sangat mudah yah, satu lembar sak semen  dijual dengan harga yang sangat fantastis. Aku kagum sama penjual tersebut andaikan setiap kapal yang sandar dan ia menjual seratus lembar sak semen dan dikali dengan sepuluh ribu woww bisa kaya mendadak.
Hari sudah semakin malam kapal belum juga jalan. Aku memperhatikan jam sudah menunjukan pukul 22;30 kedinginan malam mulai terasa. Aku bersandar dipagar pembatas kapal sambil memperhatikan setiap orang yang lewat dan mengharapkan mungkin diantara orang tersebut ada yang ku kenal. Persis didepan ku ada seorang ibu  yang sedang mengobrol dengan anaknya dan sesekali ibu itu mengelus rambut si gadis cantik tersebut. Kelihatannya ibu ini lagi mencertitakan hal yang sangat penting kepada gadis itu. Gadis cantik tersebut sesekali melihat kearah ku dengan tatapan kosong lalu menunduk. Aku berusaha untuk menebak kira-kira apa yang dipikirkan si gadis itu. Namun ku tak menemukan jawabannya. Pikiran ku mulai terbagi ketika mendengar sirena kapal, dan terdengar informasi dari pihak kapal dengan pemberitahuan bahwa dalam waktu sepuluh menit lagi kapal akan berangkat dan meninggalkan pelabuhan dan menuju pelabuhan berikutnya.  
Mendengar informasi tersebut semua pengantar dan para pedagang asongan mulai beranjak turun dari kapal. Akan tetapi pandangan ku tak terlepas dari seorang ibu dan anaknya yang saling berpelukan. Disaat itu juga aku teringat akan kampung halaman dan orang-orang yang saya cintai. Bayangan wajah mama terlintas di depan ku karena aku tahu mama pasti mengkwatirkan ku. Sebenarnya saat itu aku bisa menahan air mata. Tapi karena melihat ibu dan anaknya yang saling berpelukan dan diiringi dengan tangisan. Hal inilah yang membuat ku terharu sampai meneteskan air mata. Ibu itu memeluk anaknya sambil menangis, disela tangisnya ia bilang ke anaknya ” nak jalan baik- baik mama mau turun, ingat jaga barang baik baik’’. Ibu itu melepaskan pelukan dengan anaknya sembari berjalan menuju ke tangga turun dan melambaikan tangan. Gadis itu tak mampu melihat ibunya yang sementara jalan menuju ke tangga. Malah gadis ini melihat kearahku  dan mejatuhkan air mata. Jujur aku tak mampu lagi membendung air mata, aku pun berbalik arah dan merebahkan tubuh ke lantai kapal yang beralasankan sak semen sambil memeluk tas dan menangis. Aku benar-benar merasa sedih pada saat itu. Aku mengingat kembali setiap kata-kata yang keluar dari mulut mama dan begitu banyak pesan yang menyentuh dihati. Sekarang kapal telah melepas jangkar kini aku menjadi orang asing dikapal ini, aku tak punya siapa-siapa tak ada yang aku kenal. Kini hanya air mata kesedihan yang menghampiri ku.
Gadis itu telah hilang dari hadapan ku, entah kemana. Aku tak tahu .Gara-gara dialah tampang preman ku dan berwajah seram pun hilang dan dalam sekejap aku berubah menjadi seorang lelaki cengeng. Aku baru menyadari aku sudah dewasa. Tapi aku menjatuhkan air mata. Laki kok nangis, laki kok cengeng. hehehe. Air mataku benar-benar telah kering, Aku mengeluarkan rokok dan menyulut sebatang dan membakarnya. Sambil menikmati setiap hembusan asap yang keluar dari mulut sembari melihat kerah lautan yang gelap tak bercahaya. Tiba tiba pundak ku ditepuki oleh dua orang anak muda untuk meminta korek api. Kedua pemuda ini menyodorkan tangannya sambil berkenalan. Setelah kami berkenalan dan bercerita serta menanyakan tujuan yang akan ditujui ternyata kami memiliki tujuan yang sama yaitu Surabaya. Pada saat itu aku merasa sedikit lega setelah ku mendapatkan teman yang baru. walaupun kami baru berkenalan tapi rasanya sangat akrab sekali dan mereka mengajak ku serta mengangkat barang bawaan ku ketempat yang mereka sediakan.
Malam semakin larut, suasana dikapal semakin asik. Ada yang bercerita, ada yang main kartu,ada yang sementara berbaring, ada pula yang tertidur pulas. Udara di kapal yang cukup panas membuat ku tak mampu menahan derasnya keringat yang bercucuran membasahi sekujur tubuh. Itulah yang membuatku tak betah tinggal dalam dek kapal pengap. Untuk mengatasi hal tersebut ku harus keluar duit dan menuju kafe untuk bisa menikmati segelas kopi. Suasana di luar memang sangat nyaman, kita tidak merasa gerah, atau pun panas. Hembusan angin malam menggoyah jiwa dan raga, deburan ombak berkali kali menghantam badan kapal. Membuat jantung ku sedekit berdebar. Tanpa disadari secangkir kopi telah ku habisi, ku harus kembali merebahkan badan karena waktu sudah malam.
Fajar baru telah muncul di ujung timur, cahayanya membias ke segala penjuru, angin pagi yang sejuk menghapus bau dan keringatan semalam. Ku duduk diatas begasi kapal menatap ke segala arah sambil menerka-nerka dimanakah kampung ku berada. Panggilan makan pagi sudah terdengar. Dengan wajah sedikit pucat ku berjalan menuju kamar mandi sekedar membersihkan wajah. Biar kelihatan cerah secerah mentari pagi. Setelah dari kamar mandi ku menuju antrian bersama penumpang lainnya untuk mengambil makan pagi. Makanan didalam kapal tak sebanyak yang kita makan dirumah sendiri. Dalam kapal kita hanya mendapatkan sekotak makanan dengan nasi dan lauknya cuma sedikit. Sedangkan di rumah porsi makan ku cukup lumayan, tumpukan nasi dipiring bagaikan gunung itu pun masih kurang dan pasti ada penambahan kuota nasi gelombang berikutnya. Sehingga permintaan ruang tengah pun bisa terpenuhi. Aku teringat seorang teman pernah mengatakan kepadaku “kalau di kapal harus persiapkan uang yang cukup dan kalau lapar tinggal beli lagi, tapi harganya lumayan mahal tak sebanding dengan harga yang kita dapatkan di darat’’. Hal ini aku baru menyadarinya ternyata benar apa yang dikatakan teman ku.
Satu persatu pelabuhan ku singgahi dan antrian penumpang bagaikan semut memenuhi pelabuhan, ada yang turun ada pula yang naik kapal. Perhentian kapal disetiap pelabuhan cukup lama. Sehingga moment itulah ku manfaatkan dengan baik dan menikmati pemandang serta mengamati setiap pelabuhan yang di singgahi. Hal ini berbeda dengan pedangang asongan mereka memanfaatkan waktu tersebut dengan menjual barang- barang daganganya. Sehingga dalam beberapa jam kapal bagaikan pasar dipenuhi dengan penjual-penjual yang menawarkan barangnya kepada penumpang kapal. Memang mencari nafkah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan tetapi harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan. Pedagang asongan ini memberikan sebuah signal kepada ku bahwa hidup itu butuh perjuangan, kerja keras, dan membaca peluang serta memanfaatkannya.
Kapal tua yang aku tumpangi, merupakan kapal yang cukup tangguh dan membawa ribuan penumpang. Dengan gagah beraninya mengarungi lautan luas dan melewati beberapa selat. Hantaman ombak yang cukup deras membuat kapal tua ini pun sedikit oleng seperti bis kayu melewati jalan berlubang. Kepala ku terasa pusing dan jalan satu-satunya harus berbaring untuk mengurangi rasa mual. Maklum aku anak desa yang baru pertama kali menumpang kapal dan dilahirkan didaerah pedalaman bukan dari kalangan nelayan, sehingga lihat laut pun jarang. Aku takut sama kedalaman lautan. Tapi aku tak kan takut menyelami sampai kedalaman hati mu.hehe sedikit gombal. Jangankan air laut, kolam pun aku tak berani. Hanya doa dan berharap agar kapal ini tiba di tempat tujuan dengan selamat. Sampai akhirnya aku pun tidur  terlelap.
Kapal berjalan sangat lambat. Aku keluar menuju bagasi kapal. Tanpa sengaja, senja menyapa ku dengan ramah. Wow..Terima kasih sang waktu yang telah memberikan keistimewaan di sore ini. Warna kemerahan menghiasi langit di ufuk barat yang sebentar lagi pergi bersama indahnya malam. Rupanya dia bersama senja, langit malam tak mungkin meminangnya karena dia bersama bintang. Aku yakin, ku tak mungkin kesepian. Aku berani menggapainya, walaupun ku harus rela merajut kasih dilangit hitam. Sosok itu muncul dari seberang sana, seraut wajah mungil menyapa ku sambil tersenyum. Inilah dia sang bidadari titipan sahabat ku yang ku cari dari hari-hari kemarin. Kini kami saling menyapa, mengumbar senyum sambil memendam rasa. Pelabuhan Benoa Bali menjadi saksi mata pertemuan kami yang tak terduga. Kelap kelip lampu kapal menghiasi gelapnya malam. Kapal-kapal pun saling menyapa dengan membunyikan suara sirenenya. Hati ku berbunga-bunga seperti tempiasan kembangan api menghiasi langit di bibir pantai Benoa Bali. Gadis dari sahabat ku yang saat itu memakai baju bola masih bercanda dan berbasa basi dihadapan ku. Sesekali tanpa sengaja kami saling bertatapan, lalu berpaling dan tersenyum. Ada apa yah?? Hehe  Mungkin diantara kami ada hal tertentu yang tak bisa diungkapkan pada saat itu. Biarlah ini menjadi misteri.
Kapal berangsur pergi meninggalkan pelabuhan Benoa Bali. Dalam beberapa jam lagi aku akan sampai pada pelabuhan terakhir. Penumpang di dalam kapal pun sedikit berkurang dan banyak yang turun dipelabuhan sebelumnya. Suasana didek enam sangat akrab mungkin karena hampir tiga hari lamanya menjadi penghuni kapal sehingga dengan sendirinya mulai muncul rasa keakraban antara satu dengan yang lainnya. Semua kami merupakan calon anak perantauan sekaligus calon maba alias mahasiswa baru dan rata-rata baru pertama kali naik kapal. Kami menceritakan keraguan kami masing-masing dan semua yang kami alami hampir sama yaitu bagaimana menghadapi situasi diaerah yang nantinya kami ditujui. Berbagai kampus telah mereka sebutin untuk daftar kuliah. Sedangkan aku masih bingung dan kampus apa yang akan ku daftar nanti. Semuanya aku tak tahu. Jangan kan hal itu, daerah yang ku tujui ini  tidak ada bayangan sedikit pun dalam benak ku. Semuanya kosong .Tak ada bayangan atau gambaran sedikit pun.
Setelah hampir sehari perjalanan dan tinggal beberapa jam lagi kapal akan mendekati pelabuhan perak Surabaya. Cahaya lampu sepanjang pesisir mulai kelihatan sedangkan kapal kapal hampir berjejeran dan berjalan dengan pelan mendekati pelabuhan. Sebagian penumpang berbaris diteras kapal menikmati pemandang pesisir di malam hari. Ada pula beberapa penumpang memanfaatkan waktu tersisa dengan foto bersama dengan berlatarkan cahaya lampu yang berada di kejauhan sana. Kapal semakin mendekati pelabuhan pemandangan sudah sangat terlihat jelas. Sebentar lagi tanah jawa ku tapaki. Pemandangan disini luar biasa. Indahnya bagaikan surga. Cahaya lampu berkilau dimana-mana seakan-akan sulit untuk membedakan antara siang dan malam. Sedangkan didaerah ku masih gelap gulita, hanya cahaya pelita bisa menerangi malam dan ku lukiskan rasa kebahagian lewat cahayanya yang muncul dari celah-celah dinding. Walaupun tak bertahan lama ia akan padam bila minyaknya habis atau padam diterpa angin. Tetapi  ku tetap bahagia dan tidur terlelap walau dalam gelap tapi selalu ada ketenangan dan kedamaian terukir disana.
 Tepat pukul 23.30 kapal telah sandar di pelabuhan perak Surabaya. Semua penumpang menuju tangga turun dengan membawa barang-barangnya. Ada seorang cewek meminta bantuan ku untuk membawakan kopernya, kebetulan barang bawaan ku tak banyak dan aku pun mengiyakannya. Dalam perjalanan menuju tangga kapal cewek ini terpisah dengan ku. Setelah tiba diarea pelabuhan ku coba mencarinya namun karena banyaknya penumpang aku tak melihatnya. Teman ku memberikan saran agar menunggu cewek pemilik koper tadi di pintu gerbang keluar pelabuhan. Sesampainya di gerbang tersebut banyak para sopir menawarkan jasa untuk diantarkan ke tempat yang kita tujui. Rupanya ada seseorang  yang sedang menungguku di pintu gerbang tersebut. Dialah orang yang menjemputku pada saat itu. Kami langsung menuju mobil dan mengatur barang-barang. Setelah semua barang sudah ditaruh dalam begasi mobil hanya tinggal satu koper yang tak ku ijinkan untuk dimasukan kedalam bagasi. Aku segera mencari si cewek tadi diantara kerumunan orang banyak. Selama di kapal kami tinggal sama-sama dalam satu dek cuma kami belum memperkenalkan nama atau saling menukar nomor telpon. Kami saling bercanda dan bercerita layaknya seperti yang sudah berkenalan lama sebelumnya dan sungguh aku tak pernah tahu kalau akan terjadi seperti ini.
Setelah hampir setengah jam mondar mandir mencari cewek tersebut belum juga ku temui. Aku hanya ingat pakian yang dipakai cewek tersebut dia memakai baju warna kuning, celana pendek, memakai slempang dilehernya, dengan ciri-ciri tidak terlalu tinggi, dan berkulit putih. Aku kembali ketempat parkiran mobil dan meminta ijin untuk bersabar karena aku harus mencari si cewek tersebut. Sempat kaka yang menjemput ku memberikan saran untuk membawa kopernya ke malang nanti baru dicek isi kopernya untuk mencari identitasnya. Namun menolak ide tersebut dan aku harus tetap mencarinya, aku tak mau membuat cewek ini beban. Aku kasihan denganya pasti dia memikirkan barang-barangnya. Aku yakin pasti dia sedangkan mencarikan aku untuk mengambil kopernya. Setelah berjalan beberapa meter dari parkiran mobil aku melihat cewek  si cewek tersebut. Ia sangat panik saat itu dan pandangannya melihat ke berbagai arah. Aku mendekatinya dan memberitahu kopernya ada di mobil dia mengucapkan banyak terimakasih pada saat itu dan sempat memberikan sejumlah uang kepada ku, tapi aku menolaknya. Ia segera mengambil kopernya sambil memberi ucapan terimaksih sekali lagi terus pamit lalu pergi.
Setelah berpisah dengan cewek tadi. Aku melihat gadis dari sahabat ku berdiri dekat sebuah mobil sambil menunggu sopirnya sedang mengatur barang-barang. Aku mendekati dan menyapanya ia sempat menawarkan ku untuk satu mobil bersamanya. Tapi ku menolak karena aku sudah ada jemputan. Setelah barang-barang mereka sudah beres semuanya mobil yang ditumpangi gadis ini meninggalkan pelabuhan. Setengah jam kemudian mobil yang ku tumpangi ini beranjak pergi menuju kota yang ku tujui. Mobil melaju dengan kecepatan sedang kami duduk berhimpitan dengan penumpang lainya. Lagu gawi  khas daerah ende menghibur kami malam itu sampai aku tertidur dan terbangun disaat mobil sudah berhenti di bumi Arema. Aku merasa bersyukur walaupun perjalanan yang cukup melelahkan namun tiba di kota Malang dengan selamat. Kota inilah ku pertaruhan nasib selama empat setengah tahun.
SEKIAN
Malang, 25 April 2019
Penulis: AdolfuZ N. AR



  




Legenda

ASAL USUL WATU TEDON Secara Etimologis Watu Tedon t...