ASAL
USUL WATU TEDON
Secara
Etimologis Watu Tedon terdiri dari dua kata yaitu watu, dan tedon (dalam
bahasa daerah Riung Barat) watu yang
artinya batu dan Tedon artinya
tersusun bagian atasnya. Atau dalam arti yang luas Watu Tedon adalah sebuah
batu yang ditindih diatas batu lainnya.
Desa wolomeze 1 merupakan sebuah desa yang ada
dikecamatan Riung Barat, di desa ini terdapat sebuah batu besar yang sangat unik
dan masyarakat setempat menyebutnya Watu Tedon. Lokasi Watu Tedon ini berada di
perkebunan warga yang jaraknya relative dekat dengan kampung Nampe desa
Wolomeze 1, dengan jaraknya sekitar 2 km dari lokasi dimana Watu Tedon itu berada. Menurut cerita yang beredar
dimasyarakat Watu Tedon ini bukanlah sebuah batu biasa tapi awal mulanya adalah manusia, yang
menjelma menjadi batu. Ada beberapa sumber lisan berpendapat bahwa batu ini
muncul sebelum bangsa Indonesia merdeka dan di perkirakan kejadian ini sekitar tahun 1920 –an, hal ini memiliki bukti
yang cukup kuat karena di danau Ngandong masih terdapat sisa tiang rumah
penduduk sampai saat ini.
Kisah
Watu Tedon berawal dari sebuah fenomena
supranatural disalah satu daerah di Manggarai Timur dan nama daerah tersebut
yaitu kampung Ngandong (Sekarang danau Ngandong).Secara administrative danau
Ngandong terletak di desa Golo Lebo, kecamatan Elar, kabupaten Manggarai Timur.
Peristiwa di Ngandong bermula dari dua perempuan yang kebetulan pada saat itu
tinggal dikampung, sedangkan warga lainnya banyak melakukan aktivitas yaitu
dikebun mereka masing masing,dikarenakan masyarakat Ngandong pada saat itu
mayoritas penduduknya adalah sebagai petani. Pada saat itu kampung Ngandong
lagi diguyur hujan di siang harinya, sehingga kedua perempuan itu tetap tinggal
didalam rumahnya masing- masing.Tetapi diantara kedua perempuan tersebut salah
satunya ingin menyalakan api tetapi tidak memiliki korek api maka ia ingin
meminta api ditetangga sebelah rumahnya. Ia pun segera memanggil tetangganya tersebut dan meminta api dengan alasan
dirumahnya tidak ada api. Tetapi kondisi pada saat itu hujan yang sangat deras
sehingga keduanya tidak berani keluar untuk mengantarkan api atau mengambilkan
api tersebut. Sehingga munculah ide dari keduanya untuk memperdayai seekor anjing yaitu dengan mengikat sebatang kayu api (dalam
bahasa daerahnya disebut lunton api) diekor anjing tersebut serta mengusirnya anjing tersebut ke
arah rumah tentangga yang membutuhkan api. Namun anjing tersebut meronta kepanasan karena sebagian bulunya terbakar.Melihat
hal tersebut Kedua orang ini pun tertawa terbahak .Tiba-tiba pada saat itu
muncullah seorang lelaki yang mereka berdua pun tidak mengetahui asal usulnya, dan
orang itu adalah orang asing bagi mereka. Ciri-ciri orang tersebut memiliki
postur tubuh yang tinggi dan berjenggot serta ditangannya ada sebuah tongkat. Orang
ini pun menatap kedua perempuan tersebut dan bertannya; Apa yang kalian lakukan
dan apa yang membuat kalian tertawa? Pertanyaan tersebut dilontarkan sampai
tiga kali kepada kedua perumpuan itu, tetapi keduanya membohongi orang tersebut
dan mereka mengatakan bahwa mereka tidak melakukan apapun. Ketika mendengarkan
jawaban tersebut, pada saat itu juga lelaki yang berjenggot tadi menancapkan tongkat ke tanah. Seketika itu munculah air dari tanah bekas tancapan
tongkat tersebut,dan orang itu berpesan kepada kedua perempuan itu segera
tinggalkan tempat ini dan selama kalian melakukan perjalanan jangan pernah
menoleh kebelakang sampai kalian tiba ditempat tujuan. Setelah selesai
berbicara laki-laki yang tak dikenali itupun langsung menghilang. Maka kedua
perempuan itu pergi dan memberitahukan serta menceritakan semua kejadian kepada
semua masyarakat yang masih dikebun dan mereka perintahkan untuk segera
meninggalkan daerah tersebut karena kampung halaman mereka sudah dipenuhi dengar
air dan sudah dalam keadaan tenggelam. Masyarakat Ngandong pada saat itu pun
mulai pergi mencari daerah yang baru dan semuanya mulai berpencar untuk mencari
tempat yang aman untuk bertahan hidup. Ada masyarakat lain mengungsi ke arah timur yaitu diperkirakan mereka menuju ke kampung Retas (suku Retas) namun
belum sampai didaerah yang ditujui mereka memutuskan untuk berhenti sekedar
beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Namun mereka berbalik dan melihat
kembali ke arah kampung halaman mereka,dan ketika mereka berbalik lagi dengan
niat untuk melanjutkan perjalanan tiba-tiba mereka berubah menjadi batu.
***
Manusia dalam teks-teks
keagamaan dan kepercayaan kuno disebut sebagai makhluk yang memiliki banyak
keistimewaan bahkan di lukiskan hampir menyerupai Tuhan sehingga pada manusia
diletakkan kata sempurna diantara ciptaan lainnya seperti alam, tumbuhan dan binatang.
Sifat yang dimiliki oleh keempat makluk Tuhan yakni; alam memiliki sifat wujud,
tumbuhan memilki sifat wujud dan hidup, binatang memilki sifat wujud, hidup dan
dibekali nafsu dan terakhir adalah manusia memiliki sifat wujud, hidup, dibekali
nafsu, serta akal budi. Dengan akal budi inilah manusia mampu mempelakukan
sesuatu demi kepentingan hidupnya.
Manusia memiliki
hubungan dengan lingkungan, dimana suatu lingkungan sangat mempengaruhi sikap
dan prilaku manusia,demikian juga kehidupan manusia akan mempengaruhi juga
lingkungan tempat hidupnya. Tata kelakuan (mores)
manusia dalam suatu lingkungan adalah kebiasaan yang dianggap sebagai norma
pengatur. Sifat norma ini disatu sisi sebagai pemaksa suatu perbuatan dan
disisi lain sebagai suatu larangan. Dengan demikian tata kelakuan menjadi dapat
menjadi acuan agar setiap manusia menyesuaikan diri dengan kelakuan yang ada
serta meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan tata kelakuan.
Religiusitas masyarakat mempercayai bahwa
orang yang menghancurkan kampung Ngandong adalah Mbo Muri (Tuhan). Dengan kejadian di Ngandong ini, masyarakat
beranggapan bahwa peristiwa tersebut merupakan suatu kejadian yang paling
ditakuti sehingga sampai sekarang sangat takut dan pemali jika menertawakan binatang atau hal
lainnya secara berlebihan. Tradisi ini masih melekat dan diwarisi secara turun
temurun walaupun hanya melalui cerita yang disampaikan secara verbal. Mereka
meyakini jika mereka melakukan hal itu akan datang malapetaka bagi mereka. Dari
kisah Ngandong yang diceritakan turun temurun oleh para leluhur sampai sekarang ini
memberikan suatu peneguhan kepada manusia agar saling menghormati segala
ciptaan Tuhan.Segala larangan yang disampaikan oleh para leluhur masih
terdengar sampai sekarang dan selalu kaitkan dengan peristiwa yang terjadi di
Ngandong mereka sering mengungkapkan dan salah satu kalimatnya seperti ini “Za’a tawa ka’o, manuk dok sala rno dwos
tana watu kudi lau Ngandong”. Ungkapan ini yang artinya suatu larangan agar jangan
tertawa anjing ataupun ayam nanti tanah yang kita tempati bisa tenggelam
seperti di Ngandong.
Dalam hal ini bukan hanya ayam ataupun anjing
tetapi hal-hal lain yang dilakukan manusia secara sengaja dan tidak manusiawi
seperti membuat patung dari tanah, melihat anjing sementara kawin dan dijadikan
bahan candaan atau lelucon yang sangat berlebihan, maka kondisi alam akan tidak
bersahabat dengan kita dan akan terjadi seperti angin puting beliung, disambar
petir, dan akan terjadi hal lain yang tidak kita duga. Hal seperti ini sudah sering terjadi dan menelan
korban jiwa.
Kisah
Ngandong kalau kita kaitkan dengan kisah
Sodom dan Gemora dalam kitab (Kejadian bab:19) memang kisahnya
berbeda,waktu, dan tempat juga jelas berbeda tetapi dalam kisah Sodom,Gemora dan kisah Ngandong
terdapat kalimat berupa pesan yaitu (jangan menoleh kebelakang).
*Pesan
yang pertama disampaikan kepada
keluarga Lot ” Larilah, selamatkan
nyawamu; jangalah menoleh ke belakang,dan janganlah berhenti di manapun juga di
Lembah Yordan, larilah ke pegunungan,supaya engkau jangan mati lenyap’’
Tetapi pada saat itu Lot meminta kepada orang yang menuntunnya agar ia lari ke sebuah kota kecil yang cukup
dekat dengan Sodom,dan malaikat yang menuntun Lot pada saat itu menyetujui
permintaannya sehingga kota yang ia hampiri tidak di hancurkan. Ketika Tuhan
menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gemora, namun istri Lot yang
pada saat itu mengikutinya menoleh kebelakang menjadi tiang garam.
*Pesan
yang kedua disampaikan kepada dua
orang perumpuan di Ngandong yaitu”
jangalah menoleh kebelakang, sampai kalian tiba ditempat tujuan” Namun
masyarakat Ngandong yang mengungsi ke daerah timur melanggar pesan tersebut
sehingga mereka menjadi batu.Dan batu itu masih berdiri kokoh di kampung Nampe
desa Wolomeze 1 dan sampai saat ini
masyarakat setempat menyebutnya Watu Tedon.
Keterkaitan
peristiwa di Sodom dan Ngandong
merupakan suatu bentuk kekecewaan Tuhan atas tingkah laku manusia baik
terhadap sesama manusia dan makluk ciptaan Tuhan lainya.Secara historis kisah
tentang Sodom dan Gemora memiliki bukti tertulis dalam Alkitab.Sedangkan kisah
tentang tenggelamnya kampung Ngandong tidak memiliki bukti yang tertulis hanya
diwarisi melalui cerita yang disampaikan secara lisan secara turun
temurun.Namun hal yang meyakinkan kita dari dua peristiwa diatas yaitu melanggar
pesan yang sebelumnya sudah disampaikan seperti istri Lot menjadi tiang garam,
dan masyarakat Ngandong menjadi batu karena nenoleh kearah kampung halamanya.
Asal usul Watu Tedon dan kisah tentang
Ngandong tersebut memang sulit dibuktikan secara ilmiah mengingat tidak ada
catatan sejarah mengenai Watu Tedon dan Ngandong tetapi
kejadian masa lampau hanya diwariskan melalui cerita secara turun-temurun
yang disampaikan secara verbal. Perlu kita sadari bahwa pada masa lampau tidak
ada akses ke pendidikan,tidak mengenal budaya literasi, baik dalam konteks
membaca ataupun menulis seperti sekarang ini.
Sekian
NB:
Mohon kritikian dan saran dari saudara sekalian guna menyempurnakan
tulisan ini.Terimakasih
Malang, 13 maret
2019
Penulis:
Dolfus Ndona

No comments:
Post a Comment